Senin, 28 November 2016

LIPUTAN KHUSUS PAMERAN BONSAI TANGERAN “ON FIRE” 2016

LIPUTAN KHUSUS PAMERAN BONSAI
TANGERAN “ON FIRE” 2016



Salah satu indikator kesuksesan sebuah pameran adalah banyaknya pengunjung yang mendatangi acara tersebut. Di akui atau tidak tahun 2016 ini hampir semua pameran bonsai yang diadakan di Indonesia sepi pengunjung, artinya pameran tersebut tidak sesuai yang diharapkan alias kurang sukses. Pameran Bonsai Tangeran “On Fire” 2016 yang sudah jauh-jauh hari direncanakan dan disosialisasikan kepada khalayak nampaknya akan menuai kesuksesan dengan banyaknya pengunjung, selain karena promosinya sudah lama, tempatnya di dekat ibu kota dan besarnya ekspektasi penggemar akan pameran yang megah. Kenyataannya Pameran Bonsai Tangeran “On Fire” 2016 meleset dari perkiraan, sepi pengunjung alias kurang sukses. Banyak hal yang menyebabkan pameran ini kurang sukses.
Kemungkinan terbesar masalah utamanya adalah kondisi ekonomi, kelihatannya ini paling rasional hampir semua pameran di tanah air mengalami sepi pengunjung, mulai dari Sragen, Bandung, Semarang terlihat pengunjungnya tidak terlalu menggembirakan, masyarakat lebih memilih membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan pokok dan menunda untuk kepentingan hobby. Jadwal yang berdekatan antarpameran menjadi alasan berikutnya, tercatat lebih dari 4 pameran secara marathon dilaksanakan pada bulan Oktober dan November 2016 padahal bonsai peserta pameran sebagian besar adalah sama.
Pemilihan tempat pameran juga menjadi masalah yang cukup serius terkait dengan sedikitnya pengunjung acara. Kalau panitia mentargetkan orang-orang yang belanja di mall  menjadi pengunjung pameran mestinya pameran tidak dilaksanakan di lokasi tersebut. Selain tidak dilewati pengunjung mall tempat parkir lantai dua yang menjadi lokasi pameran juga tidak terlihat dari jalan maupun lalu lalang orang sekitar apalagi tidak ada papan penunjuk, baliho maupun umbul-umpul yang menunjukan tempat pameran bonsai berlangsung.
Dari beberapa kekurangan yang ada, kenyataannya pameran ini juga menorehkan beberapa nilai positip untuk dicontoh oleh daerah lain dalam melaksanakan pameran sejenis, antara lain:
Pemilihan tema “on fire” nampaknya lebih nggreget dan lain dari yang lain. Panitia nampaknya tahu bahwa kita terlalu terbiasa dengan tema yang itu-itu saja, semisal Pesona…., Indahnya… dan tema lainnya yang di ulang-ulang. Selain singkat, padat, berisi tema ini membikin penasaran orang yang membacanya, pembaca seolah diberi harapan untuk melihat pameran yang berbeda, nggreget dan penuh gelora.
Peserta bursa yang banyak dan kompak, stand bursa terisi penuh oleh pedagang yang beragam, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta dan kota sekitar ada sehingga barangnya sangat beragam. Sayang sekali pengunjung pameran tidak sesuai harapan.

Kalau ini menjadi pameran penghujung tahun 2016, semoga menjadi catatan dan bahan evaluasi untuk pengurus asosiasi, panitia penyelenggara, pedagang dan penggemar Bonsai di Indonesia agar pameran di Tahun berikutnya lebih baik.  Tentu apabila dilakukan penilaian, dalam lima tahun terakhir  tahun 2014 merupakan tahun paling istimewa bagi pameran bonsai di Indonesia, Pamnas Bandung 2014 dan International Bonsai Art & Culture Biennale 2014 di Jogjakarta masih yang terbaik. Akankah tahun 2017 Pameran Bonsai dapat lebih baik dari tahun 2014? Kita tunggu saja…
Berikut dokumentasi Pameran Bonsai Tangeran "On Fire" 2016:























1 komentar:

  1. Akang pembudidaya bonsai di bandung? Punten saya boleh minta alamat/kontaknya? Saya mau ada keperluan

    Haturnuhun

    BalasHapus