Minggu, 03 Juni 2018

KULON PROGO, SURGANYA ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA)

KULON PROGO, SURGANYA  ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA)  

Bagi para sahabat yang belum kenal Kulon Progo, saya akan perkenalkan  terlebih dahulu. Kulon Progo adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, lokasinya terletak di ujung barat wilayah DIY yakni barat dari Sungai Progo. Secara geografis, Kulon Progo terdiri dari persawahan di bagian selatan dan jalur perbukitan menoreh di bagian utara. Pohon asam jawa (tamarindus indica) banyak kita jumpai di bagian selatan wilayah Kulon Progo, yakni di sepanjang jalur jalan Deandels dan jalur tengah dari jalan di Kulon Progo, membentang tersebar  dari wilayah Temon, Wates, Panjatan, Galur dan Lendah.







Melintasi jalur tersebut, memberi kesan tersendiri apalagi saat musim semi pohon asam datang, seperti melintasi lorong waktu yang panjang kembali ke jaman dulu, kiri dan kanan terlihat pemandangan pohon-pohon asam yang terlihat tua,asri, anggun, teduh dan eksotis, tajuk atas saling bertemu tepat di atas jalan dimana kita melintas, sungguh suasana yang sangat menajubkan. Pohon-pohon asem jawa  tersebut tertata rapi di kiri dan kanan jalan dengan jarak yang hampir sama,  konon telah ditanam sejak pembangunan jalur Deandels, yakni tahun 1808 - 1809, sehingga umurnya sudah lebih dari 200 tahun. Tak mengherankan jika sekarang Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menanam dan mengembangkan pohon asam jawa di sepanjang jalur jalan Mangkubumi dan Malioboro pusat Kota Yogyakarta. 





Ratusan pohon asam jawa yang ada di Kabupaten Kulon Progo ini tak ternilai harganya, kalau dinilai dari usia pohon, bentuk dan  kemanfaatan bagi manusia yakni nilai estetika serta produsen oksigen bagi alam. Perlu waktu ratusan tahun untuk menumbuh kembangkan pohon asam tersebut, batang pohon besar,  kukit pohon berkerak kasar berkesan tua, dahan  kekar serta tajuk pohon yang rindang tidak bisa dibuat dalam tempo sekejap. Sungguh Kulon Progo adalah surga bagi pohon asam jawa (tamarindus indica) , mari kita menjaganya bersama-sama.


Bonsai Asam Jawa
Pohon Asam Jawa (tamarindus indica) sangat ideal unuk dijadikan bahan bonsai, hal tersebut karena karakteristik dari jenis pohon ini, yaitu:
  1. Karakter kulit pohon berkerak tua
  2. Batang lentur sehingga mudah dibentuk
  3. Mudah ditumbuhkan, baik dari biji, cangkok maupun dongkelan alam
  4. Tahan terhadap hama dan penyakit 
  5. Usia pohon sangat panjang, bisa ratusan tahun
  6. Perawatan sangat mudah
  7. Mudah berbuah, sehingga bisa ditampilkan dalam keadaan sedang berbuah.

Sedangkan kekurangan dari jenis tanaman asam jawa untuk bahan bonsai adalah;
  1. Berdaun majemuk, sehingga untuk mencapai proporsi pohon bonsai harus pohon asam yang besar, sulit untuk membentuk bonsai ukuran kecil/mame
  2. Tidak bisa hidup subur di daerah yang bersuhu dingin, sehingga tidak kompetitif untuk dijadikan komoditas ekspor ke negara-negara beriklim sub tropis

Bonsai pohon asam banyak dibudidayakan di daerah Klaten dan Sragen Jawa Tengah. Di tempat tersebut bonsai asam jawa dikembangkan dengan berbagai metode, salah satu metode pembesaran baatang adalah dengan cara pecah batang, yaitu memecah batang sambil membentuknya selama masa pertumbuhan. Batang dan akar dipecah sedemikian rupa, sambil diarahkan pada bentuk yang diinginkan.  Hasilnya adalah dalam tempo paling lama 5 tahun, kita sudah mendapatkan bahan bonsai dengan ukuran batang yang relatif besar.
Produk-produk budidaya asam jawa dari Klaten dan Sragen sudah banyak kita temui pada kolektor-kolektor bonsai di nusantara bahkan sebagian sudah di ekspor ke luar negeri utamanya adalah negara-negara dengan iklim tropis. Bonsai asam jawa termasuk jenis bonsai kelas menengah ke atas, sejajar dengan bonsai papan atas lainnya seperti cemara (juniperus), beringin (ficus benjamina),Lo Han Sung (podocarpus), santigi (phempis acidula) maupun cemara udang (casuarina equisetifolia). Harga bahan bonsai asam jawa kwalitas satu antara 1 s/d 5 juta sedangkan bonsai jadinya mencapai ratusan juta rupiah.
Ketr: salah satu hasil budidaya bonsai asam jawa (tamarindus indica) 

Semoga pohon-pohon asam jawa di Kulon Progo tersebut dapat menjadi inspirasi bonsaimania dalam berkarya.

Senin, 07 Agustus 2017

Selayang Pandang Pameran Bonsai Purworejo

Selayang Pandang Pameran Bonsai Purworejo
31 Juli – 8 Agustus 2017



Tahun 2017 nampaknya merupakan tahun kebangkitan seni bonsai di Kabupaten Purworejo, setelah lama vakum tahun ini Purworejo mampu menyelenggarakan pameran bonsai dengan peserta cukup banyak. Isyu tentang kisruh primodialisme  komunitas bonsai yang sempat ramai di media social akhir-akhir ini  tak menyurutkan peserta untuk berpartisipasi dalam pameran kali ini. Hal ini juga didukung oleh “permainan cantik” panitia pameran untuk mengakomodir seluruh komunitas bonsai di Nusantara. Keputusan salah satu komunitas bonsai  bahwa pameran hanya untuk anggota yang memiliki KTA (kartu tanda anggota) komunitas bonsai tertentu “tidak ditaati” oleh panitia pameran.
Terbukti jalan yang ditempuh oleh panitia benar dan jumlah peserta melebihi taget yang ditetapkan, Jauh-jauh hari panitia bergerilya ke komunitas bonsai untuk mensosialisasikan pameran dan juga mengajak untuk mensukseskan pameran. Inilah sebenarnya esensi main hobby bonsai, selama masih bergelut dengan seni ini berarti kita adalah sedulur, sedulur, sedulur, lur….!!!
Okay back to lapangan Pameran saja. Lebih dari 300 pohon ikut ambil bagian dalam pameran ini, mulai dari kelas prospek, regional sampai madya. Lokasi pameran ada di sekitar calon proyek masjid di Baledono.  Sebenarnya panitia cukup berani mengambil keputusan untuk menggunakan tempat ini, selain bukan tempat yang strategis tempat pameran juga kurang memberikan view yang menarik, bekas galian proyek dan tiang pancang beton yang belum sempurna menjadi back ground dari pohon-pohon pameran. Pohon-pohon pameran ditata mengitari calon proyek masjid, sehingga untuk menikmatinya mau-tidak mau kita harus mengitari tempat tersebut.



Peserta pameran cukup merata beberapa kota besar andil dalam pameran ini seperti Jakarta, Semarang, Bandung juga kota kota di sekitar Purworejo seperti Jogja, Klaten, Wonosobo bahkan sampai ke Jawa Timur. Secara umum, kualitas pohon peserta masih dibawah Pameran Bandung 2016 maupun Tangeran akhir tahun kemarin. Hal tersebut dapat dimaklumi karena tidak semua kolektor besar nasional turun dalam pameran ini.
Penataan dan display pameran juga kurang baik, pohon kelas prospek, regional dan madya tidak ada batas yang jelas sehingga mengkaburkan kualitas pohon yang sudah bagus karena berdampingan dengan pohon kelas di bawahnya. Hal ini karena sejak proses pendaftaran, penerimaan sampai dengan display dilakukan sendiri oleh peserta tidak dilakukan oleh panitia, Sehingga peserta membawa sendiri dan mendisplay sampai di meja pameran.









Bursa Pameran kali ini juga kurang menggembirakan, selain karena keadaan ekonomi nasional yang sedang lesu, tempat pameran yang kurang strategis juga berimbas pada jumlah pengunjung pameran yang tidak optimal. Padahal peserta bursa cukup banyak dan rata-rata merupakan pemain lama dalam dunia bonsai sehingga kualitas pohon yang ditawarkan juga cukup baik.





Pada  pameran kali ini, tak ketinggalan SJF (Sleman Juniper Family) mengirimkan 9 pohon terbaiknya. Jenis dan bentuk pohon beragam termasuk usia kematangnnya, berikut bonsai partisipasi SJF dalam Pameran Purworejo 2017








Walaupun ada beberapa kekurangan, secara umum pameran bonsai Purworejo 2017 cukup sukses dengan jumlah peserta cukup banyak. Selamat untuk panitia pameran Purworejo, Sukses dan Maju Terus Bonsai Purworejo.

Berikut ini adalah beberapa bonsai peserta pameran yang cukup mencuri perhatian, semoga dapat menjadi inspirasi kita bersama….