Sabtu, 25 Mei 2019


Harapan Baru Agrobisnis Indonesia

KIREINA, 25/05/2019. Mengunjungi Pameran Produk UKM "GREBEK LEBARAN" di alun-alun Sewandanan Pura Pakualaman pagi ini Sabtu (25/5/2019) menjadi pengalamanku yang tak terlupakan. Utamanya karena aku menyaksikan sendiri bagaimana produk-produk agribisnis rumahan dapat dikemas sedemikian menariknya sehingga memiliki daya jual yang lebih baik.
Ketr. pisang di halaman rumahku selalu berbuah bergantian sepanjang waktu

Keluargaku di rumah memiliki kegiatan sampingan yakni berkebun, aneka tanaman buah-buahan mulai dari; pisang, pepaya, jeruk, jambu, kelapa,  alpukat sampai durian dibudidayakan di halaman  yang tidak lebih dari 500 meter persegi. Sepanjang tahun tanaman tersebut berbuah bergantian, sehingga kami tidak pernah membeli buah-buahan karena semua buah tercukupi dari halaman rumah. Bahkan beberapa kali kami dapat menjualnya ke pedagang. Ingin sekali kami menjual hasil kebun kami tersebut dalam bentuk makanan olahan agar mendapat harga yang lebih baik. Karena sifat buah yang musiman, ketika musim panen tiba, buah melimpah harga tidak seberapa sehingga buah-buahan tersebut hanya dibagikan ke sanak saudara atau tetangga beberapa bahkan dibiarkan busuk.

Ketr. Produk Olahan Kreatif yang Menginspirasiku

Hari ini aku beruntung sekali, menemukan aneka produk olahan makanan  dari hasil pertanian di pameran produk UKM yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM bersama PLUT DIY. Criping pisang yang biasa aku temukan dijual bal-balan di pasar tradisional dengan harga yang murah, hari ini menemukan dalam kemasan yang modern mirip di toko-toko modern berjejaring atau supermarket. Dengan harga Rp 15.000,- kita bisa membawa pulang satu kemasan berisi 250 gram, padahal dengan harga yang sama kita bisa mendapatkan 1 kg criping pisang di pasar tradisional. Tentu sangat murah jika kita bandingkan apabila kita membeli produk tersebut di supermarket. 
Ketr. Produk Olahan Pertanian Lainnya

Pada sisi yang lain aku  mengunjungi stand TaniHub , connecting farms with people aplikasi pertanian yang dapat diakses oleh siapa saja. Produknya beragam, mulai dari jeruk, pepaya, semangka, melon dan produk pertanian lainnya semua ada di TaniHub. Aku takjub usaha pertanian yang lekat dengan tanah, pupuk kandang, kerja keras yang terkesan tradisional dan kotor sekarang menjadi kegiatan usaha bisnis yang banyak diusahakan, pakai aplikasi lagi. Tak ketinggalan dengan jenis usaha kekinian yang sedang trend. Sudah tentu ini akan membantu banyak petani dimanapun berada dalam mejual produk-produknya.
Ketr. Toko Tani Indonesia, Harapan Baru Agribisnis

Toko Tani adalah stand berikutnya yang aku kunjungi, aneka produk pertanian dikemas berbeda dijual di toko tani. Mengandalkan produk tani organik, Toko Tani berusaha berkembang menggapai konsumennya. Produk-produk pertanian organik memiliki keunggulan dibandingkan produk yang non-organik, salah satunya adalah tahan lama. Selain itu produk organik diyakini lebih sehat karena terhidar dari obat-obatan kimiawi. Trend hidup sehat dengan makanan organik sedang melanda dunia seiring dengan kesadaran manusia untuk kembali pada pengurangan produk kimiawi. Toko Tani akan menjadi pelopor produk organik pertanian di Indonesia.
Teori lama yang aku dapatkan dari buku-buku pelajaran di sekolah tentang agribisnis selama ini, baru terasa benarnya ketika aku menyaksikan pameran kali ini. Bahwa produk pertanian ini akan berkembang dan menghasilkan jika; bahan bakunya melimpah, mampu mengolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan bisa menjual. Sementara ini keluargaku baru bisa menanam menghasilkan aneka buah yang berlimpah namun belum mampu mengolah agar memiliki nilai tambah yang lebih apalagi menjualnya.
Pameran kali ini membuka mataku, bahwa kita mampu berkreasi dengan produk-produk kebun yang aku miliki di rumah, mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual kemudian menawarkannya kepada orang lain melalui berbagai media seperti pameran, toko tani, aplikasi TaniHub maupun ditawarkan melalui media sosial. Kalau ini berhasil tentu, tidak hanya keluargaku yang tambah penghasilannya, masyarakat yang lain pun akan mengikutinya. Semoga agribisnis Indonesia semakin maju. (Kireina)

Minggu, 12 Mei 2019

Secercah Harapan Petani Buah Indonesia



KIREINA, 12/05/2019. Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan keluarga, saya diajak mampir ke sebuah toko yang khusus menjual buah-buahan dan sayuran oleh saudara saya. Toko ini dikelola secara modern, luas, tertutup kaca, full ac, semua produk tertata rapi  pada rak dan pengunjung bebas memilih sendiri secara swalayan. Nama toko tersebut adalah All Fresh Fruit Store Indonesia.
All Fresh Fruit Store Indonesia menjual produk buah dan sayur baik lokal maupun impor. Semua dijual dalam keadaan segar, buah-buahan yang dijual cukup komplit mulai dari ceplukan, kelengkeng, pisang, pepaya, buah naga, mangga, jeruk, alpukat, melon, semangka, durian berbagai jenis dan banyak lagi buah lainnya demikian juga dengan sayurannya. Buah-buah lokal Indonesia ditata berdampingan dengan buah impor, saling bersaing namun anehnya buah lokal Indonesia lebih banyak dicari konsumen, padahal harganya sama-sama mahal. Buah lokal memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan buah impor, selain kualitasnya lebih baik, memilih buah lokal untuk dikonsumsi berarti membantu masyarakat petani di Indonesia.

All Fresh Fruit Store Indonesia memiliki 10 gerai toko di Jakarta dan sekitarnya, semua tokonya ramai pengunjung sehingga bisa dipastikan pasokan buah ke toko tersebut juga besar. Nun jauh di sana, di pasar-pasar tradisional, warung buah di pinggir jalan dan di pasar-pasar sentra buah dan sayur tren buah lokal semakin baik. Pada lapak-lapak pedagang mudah ditemui buah-buah lokal disbandingkan dengan buah impor. Hal ini berbeda dengan 5 sampai 10 tahun yang lalu dimana buah impor justru mudah ditemui dibandingkan buah lokal.
Era sekarang adalah saatnya petani buah Indonesia berdaya, ketika permintaan buah lokal semakin tinggi, distribusi semakin lancar tidak ada alasan lagi bagi petani buah untuk tidak mengembangkan pertanian buahnya. Pemerintah membangun infrastruktur secara masif sehingga menunjang jalur distribusi dari petani di desa sampai pada pedagang besar di kota. Jeruk Banyuwangi yang dulu membutuhkan waktu lebih dari 3 hari untuk sampai ke Jakarta sekarang bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 hari saja.

Lampung lebih dekat ke Jakarta, semua bisa ditanam di Lampung sehingga buah dan sayur dapat dengan cepat dan murah sampai Jakarta. Namun buah lokal memiliki keunikan sendiri, salak pondoh Sleman mungkin banyak dibudidayakan di Lampung namun Salak Pondoh yang ditanam di Sleman memiliki keunggulan dibandingkan yang dari Lampung, lebih manis dan masir mungkin. Durian Bawor hanya yang berasal dari Banyumas lah yang dicari konsumen demikian juga dengan buah lainnya, nanas madu Purwakarta, mangga harum manis di Probolinggo, mangga golek dari Indramayu, apel dari Malang, melon dan semangka dari Kulon Progo dan Sragen dan seterusnya.
Permintaan buah lokal saat ini semakin tinggi sementara stok buah lokal di petani tidak sebanding dengan permintaan tersebut sehingga harga di konsumen masih relative mahal. Buah bukan produk pabrikan, ia harus diusahakan melalui budidaya, butuh waktu untuk menghasilkan buah siap jual. Namun bisa direncanakan, dikelola agar berkah permintaan yang tinggi akan buah lokal ini menguntungkan bagi petani buah di Indonesia. Jangan sampai buah impor kembali membanjiri Indonesia lagi.
Membudidayakan tanaman buah harus dimulai dari pemilihan bibit unggul, hanya buah-buahan berkualitas baiklah yang akan bertahan di pasar dan dipilih konsumen selain itu juga dibutuhkan bibit tanaman yang berbuah lebih cepat. Petani Indonesia sudah sangat paham dengan hal tersebut. Bibit buah unggulan sudah banyak di usahakan di Indonesia, di Salaman Magelang semua bibit buah-buahan unggul tersedia dengan harga yang sangat terjangkau demikian juga di daerah Pituruh, Purworejo Jawa Tengah.

Ini adalah era dimana petani buah Indonesia berdaya. Secercah harapan ini harus disamput dengan sukacita dan kerja keras, agar petani Indonesia kembali Berjaya. Salam Tani (AWB). 

Senin, 29 April 2019

Berburu Kambing PE Kaligesing di Pasar Seton Purworejo


Berburu Kambing PE Kaligesing di Pasar Seton Purworejo

KIREINA, 29/04/2019. Bagi penggemar kambing Peranakan Etawa (PE) trah Kaligesing mendapatkan bakalan kambing PE yang berasal dari daerah aslinya adalah sebuah kebanggaan sendiri. Kaligesing merupakan nama sebuah daerah yang masuk wilayah Kabupaten Purworejo, letaknya kurang lebih 30 KM arah timur laut dari kota Purworejo. Kaligesing kemudian menjadi nama yang sangat populer untuk jenis kambing PE di Nusantara.
Ketr. Pemandangan Alam menuju Pasar Seton Kaligesing
Untuk membedakan dengan jenis kambing PE lainnya, Kambing PE Kaligesing memiliki warna khusus yakni paduan antara hitam dan putih. Kebanyakan warna hitam ada di bagian kepala semantara warna putih ada di bagian leher ke bawah. Ciri lainnya Kambing PE Kaligesing memiliki daun telinga yang panjang dan jatuh atau "ngglembreh". Selain postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan jenis kambing lainnya, Kambing PE Kaligesing memiliki keunggulan yakni produktivitas susu yang tinggi, bahkan sesuai informasi yang saya dapatkan di kalangan peternak produk susu Kambing PE Kaligesing lebih baik dibanding Kambing jenis Sanen yang selama ini dikenal sebagai jenis kambing penghasil susu terbaik.
Ketr. Kambing PE Jenis Kaligesing
Pusat perdagangan Kambing PE Kaligesing terbesar ada di Kecamatan Kaligesing, tepatnya ada di Pasar Seton (Setu). Uniknya pasar ini hanya buka saat hari Sabtu saja (Setu:Jawa), sehingga dinamai sebagai Pasar Seton berasal dari kata Setu. Pasar Seton mulai ramai dikunjungi oleh pedagang dan pengunjung pasar sejak pukul 04.00 WIB mereka datang dari berbagai daerah, baik dari sekitar pasar maupun daerah lain seperti Semarang, Wonosobo, Temanggung, Jogja bahkan dari Jawa Timur maupun lainnya. Banyaknya pedagang serta pengunjung inilah yang kemudian Pasar Seton Kaligesing menyandang predikat sebagai Pasar Kambing PE Kaligesing terbesar di Asia.
Menuju Pasar Seton Kaligesing kita harus menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum yang menuju daerah ini. Letak Pasar Seton Kaligesing yang berada di puncak gunung tepatnya tempat tertinggi dari pegunungan Menoreh menyebabkan tidak ada angkutan umum yang menuju ke arah tersebut. Kendaraan yang dapat sampai di tempat tersebutpun hanya jenis -jenis kendaraan tertentu, mengingat medan yang cukup sulit. Bagi pencinta petualangan alam tentu perjalanan menuju Pasar Seton Kaligesing membawa keasyikan tersendiri, sepanjang perjalanan menuju lokasi adalah pemandangan yang sangat menabjubkan, terutama apabila kita melalui jalur Girimulyo. Hijau hamparan permadani tanaman pertanian berpadu padan dengan pemandangan perbukitan menoreh yang sangat indah serta lalu lalang kegiatan para petani. Dibeberapa tempat kita bisa berhenti untuk mendapatkan spot foto terbaik yang jumlahnya cukup banyak.
Perjalanan selanjutnya kita akan sampai di tempat tertinggi dari Perbukitan Menoreh di wilayah Girimulyo yakni daerah wisata Gua Kiskendo. Dari tempat ini kita bisa melihat kota Jogjakarta, Wates maupun batas cakrawala di selatan Bantul dan sekitarnya  dari atas. Pasar Seton Kaligesing berada kurang lebih 1,5 KM dari Gua Kiskendo arah utara.
Ketr. Suasana Pasar Seton Kaligesing
Memasuki area Pasar Seton Kaligesing, kita akan melihat kepadatan pedagang dan pengunjung pasar. Pasar Seton Kaligesing tidak terlalu luas kurang lebih hanya 1.500 M persegi sehingga pedagang dan pengunjung meluber sampai di luar pasar, para pedagang memanfatkan jalan-jalan di sekitar pasar untuk menjajakan kambingnya kepada para pengunjung pasar. Pagi itu, saya sampai Pasar Seton Kaligesing kurang lebih pukul 06.30 WIB, pedagang dan pengunjung pasar sudah memenuhi pasar. 
Selain Kambing PE Kaligesing, di pasar tersebut kita dapat membeli aneka keperluan ternak kambing, mulai dari tambang untuk mengikat kambing, krombong, peralatan "ngarit" sampai dengan obat-obatan untuk kambing. Di pasar tersebut kita juga bisa menemukan jasa salon kambing untuk kontes, memotong kuku, merapikan tanduk/sungu sampai dengan jasa kawin dengan pejantan pilihan.
Saya takjub, transaksi yang terjadi cukup besar, seperinya antara pedagang dan pembeli saling pengertian tentang kwalitas dan harga kambing. Tidak perlu lama proses transaksi, tidak ada proses tawar-menawar berbelit-belit seperti kita membeli di pasar tradisional lainnya, lihat, cocok, bayar selesai transaksi kambing pindah tangan. Seperti itu rata-rata proses transaksi yang terjadi di Pasar Seton Kaligesing.
Ketr. Lapak Bakalan Pejantan PE Kaligesing di Pasar Seton
Ada 4 bagian pasar untuk memudahkan para pengunjung/pembeli memilih kambingnya. Bagian barat merupakan tempat anakan kambing/cempe, geser ke timur kita akan melihat banyak kambing pejantan yang gagah, sementara di bagian utara adalah kambing indukan atau betina pada sisi yang lain kita juga dapat menemukan para pedagang "ngencang" kambing bakalan yang siap dibesarkan. Pasar Seton Kaligesing dikelilingi oleh ruko-ruko yang menjual berbagai keperluan beternak dan juga warung yang menyediakan makanan bagi para pengunjung pasar. Akses masuk pasar hanya satu pintu. itupun kecil kurang lebih 2 meter lebarnya digunakan untuk masuk dan keluar pengunjung pasar sehingga cukup berjubel.
Mengunjungi Pasar Seton Kaligesing adalah pengalaman takterlupakan, saya ingin selalu datang kesini kalau memiliki waktu luang, bukan untuk membeli kambingnya saja tapi saya akan menikmati seluruh proses mulai dari perjalanan menuju pasar, suasana pasar sampai pulang lagi ke rumah. Sungguh merupakan perjalanan yang sangat mengasyikan, silahkan dicoba kalau tak percaya. (AWB)

Sabtu, 23 Juni 2018


Bonsai KontemporerKreasi Seni Tanpa Batas





Bonsai adalah karya seni yang sangat dinamis, dari waktu ke waktu mengalami perubahan yang signifikan. Coba buka koleksi buku kita tahun 1980-an lalu kita bandingkan dengan tahun 1990-an dan seterusnya kita tidak akan pernah  menemukan gaya statis dari seni bonsai tapi justru perubahan yang sangat nyata.  Apakah Seni Bonsai Kontemporer itu?

Seni Kontemporer adalah perkembangan seni yang terpengaruh dampak modernisasi, yang eksis dan berlangsung serta  terjadi sampai sekarang, atau segala hal yang berkaitan dengan saat ini. Contohnya seni kontemporer yang  berarti seni modern  yang tidak mengikuti  berbagai aturan seni pada zaman dahulu  dan seni tersebut berkembang sesuai zamannya sekarang.

Jadi Seni Bonsai Kontemporer adalah seni bonsai modern kekinian yang tidak terikat dengan aturan-aturan seni bonsai zaman dulu dan berkembang sesuai dengan tututan zaman.  Bisa jadi gaya-gaya bonsai tahun 1980-1n adalah kontemporer di masanya, tahun 1990 an juga sehingga gaya-gaya tersebut saat ini sudah tidak kontemporer lagi. Gaya bonsai kontemporer saat ini, sepuluh tahun mendatang sudah tidak kontemporer karena muncul gaya yang lebih baru.

Sejak awal perkembangan seni bonsai, telah ada lima gaya dasar dalam membentuk bonsai. Bonsai dapat dikelompokkan menjadi 5 gaya dasar. Gaya dasar tersebut ditentukan oleh bentuk batang yang dimulai dari pangkal akar sampai puncak mahkota. Adapun kelima gaya dasar bonsai tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Gaya tegak lurus/chokkan/formal upright

Gaya tegak lurus disebut juga dengan chokkan atau formal upright. Gaya bonsai tegak lurus memiliki kriteria khusus yaitu sebagai berikut:
·      Mempunyai batang yang tegak lurus dari pangkal pohon sampai puncak
·      Pangkal batang besar dan makin ke atas makin kecil
·      Akar harus kuat dan menjalar ke segala arah pada permukaan tanah
·      Cabang juga besar di pangkal dan makin ke ujung makin runcing
·      Top mahkota terletak pada satu garis vertikal dengan pangkal akar
·     Tinggi ideal bonsai dengan gaya ini adalah enam kali dari diameter pangkal           pohon
·     Jarak batang pada gaya ini lebih baik tidak merata serta lebih lebar pada               bagian   bawah dan semakin ke atas akan semakin merapat





Gambar 1 Gaya bonsai tegak lurus/chokkan/formal upright

2. Gaya tegak berliku/tachiki/informal upright

Bonsai gaya tegak berliku disebut juga dengan tachiki atau informal upright. Gaya bonsai ini paling banyak ditemukan di alam bebas maupun sebagai bonsai. Gaya bonsai tegak berliku memiliki kriteria sebagai berikut:
·  Mempunyai batang yang tegak tetapi berliku-liku dengan lekuk-lekuk yang teratur pada batang dimana sebagai pembeda dengan gaya tegak lurus
·   Gaya ini seolah menjadi simbol suatu perubahan sedangkan gaya tegak lurus menggambarkan suatu yang tetap

·    Cabang harus tumbuh ke segala arah dan hanya pengaturan sudut kemiringan cabang terhadap batang di kanan dan kiri yang berbeda. Hal ini sangat penting untuk memperoleh keseimbangan dari bonsai yang dibuat.
·    Pada gaya tegak berliku yang murni, puncak pohon jatuh tepat di atas pusat pangkal batang, sedangkan batang tumbuh mulai dari tegak sampai miring sekitar 15 derajat
·     Sama seperti pada gaya tegak lurus, bonsai gaya ini juga harus mempunyai pangkal batang yang besar dengan akar-akar yang menjalar kuat ke segala arah dan batang semakin kecil ke arah puncak





Gambar 2 Bonsai gaya tegak berliku/tachiki/informal upright

3. Gaya miring/shakan/slanting

Bonsai gaya miring disebut juga dengan shakan atau slanting. Gaya ini menggambarkan pohon yang berada di lereng yang agak landai sehingga tumbuh miring dalam usaha untuk mencari sinar matahari dalam persaingan dengan pohon-pohon lain yang berada di sekitarnya. Bonsai gaya miring memiliki kriteria sebagai berikut:
  • ·   Letak batang pokok miring ke arah kanan atau ke kiri
  • ·      Bentuk batang pokok lurus atau lurus berliku
  • ·      Top mahkota berada pada satu garis lurus dengan pangkal akar
  • ·      Batang harus besar di pangkal dan makin ke atas makin kecil
  • ·    Akar sebaiknya tumbuh ke semua arah tetapi akar yang terkuat harus     tumbuh ke arah yang berlawanan dengan kemiringan batang sehingga     pohon kelihatan kokoh dan alamiah
  • ·      Apabila batang miring ke kanan, maka akar terkuat harus menjalar ke kiri       begitu pula sebaliknya



Gambar 3 Bonsai gaya miring/shakan/slanting

4. Gaya setengah menggantung/han-kengai/semi-cascade

Bonsai gaya ini disebut juga dengan han-kengai atau semi-cascade. Gaya ini menggambarkan pohon tumbuh di tebing curam dengan batang yang miring dan cabang setengah menggantung. Bonsai gaya setengah menggantung memiliki kriteria sebagai berikut: 

  •    Letak batang pokok mendatar sejajar dengan bibir pot sedangkan cabang atau ranting menggantung melewati bibir pot
  • ·  Bentuk batang pokok lurus atau lurus berliku
  • ·  Arah batang pokok ke kanan atau ke kiri
  • ·  Top mahkota berada di samping mengikuti arah batang pokok dan ada juga yang sejajar atau di bawah bibir pot bagian samping


Gambar 4 Bonsai gaya setengah menggantung/han kengai/semi cascade

5. Gaya menggantung/kengai/cascade

Gaya menggantung disebut juga dengan kengai atau cascade. Pohon yang tumbuh di tebing yang sangat curam cenderung untuk tumbuh menggantung, tetapi ada bagian tertentu yang tetap berusaha tumbuh ke atas seperti hakekat alami dari pohon. Bonsai gaya menggantung memiliki kriteria sebagai berikut:
  • · Letak batang pokok sejajar dengan bibir pot, kemudian membengkok ke arah bawah dari bibir pot dan dapat juga batang pokok letaknya miring kemudian berubah arah ke bawah sampai melewati pot
  • ·    Arah batang pokok ke kanan atau ke kiri
  • ·    Bentuk batang dapat lurus atau lurus berliku
  • ·  Top mahkota terletak di bawah bibir pot atau menggantung mengikuti arah batang pokok, arah top mahkota ke atas

Gambar 5 Bonsai gaya menggantung/kengai/cascade

Bonsai Kontemporer

Perkembangan seni bonsai kontemporer di dunia sangat pesat, baik dari segi gaya maupun tampilan dalam pot. Di Indonesia pelopor seni bonsai kontemporer  ada 2 tokoh yang menonjol yakni: Sulistiyanto Soejoso sering disebut Sulis Ninja dan Robert Steven. Selain dua tokoh tersebut juga muncul akhir-akhir ini di kancah nasional maupun internasional.
Unsur terpenting dalam gaya kontemporer adalah imajinasi yang akan menginfluence dalam karya Bonsai, sehingga karya bonsai yang ditampilkan selalu memiliki pesan kekinian tidak statis. Karya tidak hanya pohon di atas pot tetapi juga pesan-pesan seniman yang muncul dalam karya tersebut tidak berbeda dengan karya seni lainnya misalnya music, lagu, lukisan, patung dan sebagainya.
Masuknya unsur modernisasi dalam karya inilah yang membuat karya bonsai kontemporer sangat popular dan memiliki banyak penggemar. Berikut adalah contoh karya dari bonsai kontemporer









Ketr. Santigi, phemphis acidula  Karya Sulis Ninja

Ciri yang nyata dalam sebuah karya bonsai kontemporer saat ini adalah, liukan dan tekukan tarikan cabang serta ranting yang sangat ekstrim, bahkan mungkin akan sulit kita temui di alam nyata. Selain itu perantingan yang minimalis sehingga mengesankan tonjolan pada liukan batang utama, cabang serta ranting.
Membuat Bonsai Kontemporer
Untuk  menciptakan Bonsai Kontemporer bisa dilakukan dengan dua hal, pertama, bahan mencari di alam, kedua dengan budidaya. Alam sudah sangat terbatas, sehingga untuk membuat bonsai kontemporer, hal rasional yang bisa dilakukan adalah budidaya.  Kita bisa membuat desain bonsai kontemporer sejak awal dan dapat mengarahkannya sejak masih kecil, sehingga kita akan mendapatkan hasil yang optimal. Dibutuhkan kesabaran dan imajinasi yang tinggi untuk memperoleh hasil terbaik. Berikut adalah  contoh budidaya bonsai kontemporer







Ketr. Bonsai Budidaya jenis asem jawa, thamarindus indica

Minggu, 03 Juni 2018

KULON PROGO, SURGANYA ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA)

KULON PROGO, SURGANYA  ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA)  

Bagi para sahabat yang belum kenal Kulon Progo, saya akan perkenalkan  terlebih dahulu. Kulon Progo adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, lokasinya terletak di ujung barat wilayah DIY yakni barat dari Sungai Progo. Secara geografis, Kulon Progo terdiri dari persawahan di bagian selatan dan jalur perbukitan menoreh di bagian utara. Pohon asam jawa (tamarindus indica) banyak kita jumpai di bagian selatan wilayah Kulon Progo, yakni di sepanjang jalur jalan Deandels dan jalur tengah dari jalan di Kulon Progo, membentang tersebar  dari wilayah Temon, Wates, Panjatan, Galur dan Lendah.







Melintasi jalur tersebut, memberi kesan tersendiri apalagi saat musim semi pohon asam datang, seperti melintasi lorong waktu yang panjang kembali ke jaman dulu, kiri dan kanan terlihat pemandangan pohon-pohon asam yang terlihat tua,asri, anggun, teduh dan eksotis, tajuk atas saling bertemu tepat di atas jalan dimana kita melintas, sungguh suasana yang sangat menajubkan. Pohon-pohon asem jawa  tersebut tertata rapi di kiri dan kanan jalan dengan jarak yang hampir sama,  konon telah ditanam sejak pembangunan jalur Deandels, yakni tahun 1808 - 1809, sehingga umurnya sudah lebih dari 200 tahun. Tak mengherankan jika sekarang Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menanam dan mengembangkan pohon asam jawa di sepanjang jalur jalan Mangkubumi dan Malioboro pusat Kota Yogyakarta. 





Ratusan pohon asam jawa yang ada di Kabupaten Kulon Progo ini tak ternilai harganya, kalau dinilai dari usia pohon, bentuk dan  kemanfaatan bagi manusia yakni nilai estetika serta produsen oksigen bagi alam. Perlu waktu ratusan tahun untuk menumbuh kembangkan pohon asam tersebut, batang pohon besar,  kukit pohon berkerak kasar berkesan tua, dahan  kekar serta tajuk pohon yang rindang tidak bisa dibuat dalam tempo sekejap. Sungguh Kulon Progo adalah surga bagi pohon asam jawa (tamarindus indica) , mari kita menjaganya bersama-sama.


Bonsai Asam Jawa
Pohon Asam Jawa (tamarindus indica) sangat ideal unuk dijadikan bahan bonsai, hal tersebut karena karakteristik dari jenis pohon ini, yaitu:
  1. Karakter kulit pohon berkerak tua
  2. Batang lentur sehingga mudah dibentuk
  3. Mudah ditumbuhkan, baik dari biji, cangkok maupun dongkelan alam
  4. Tahan terhadap hama dan penyakit 
  5. Usia pohon sangat panjang, bisa ratusan tahun
  6. Perawatan sangat mudah
  7. Mudah berbuah, sehingga bisa ditampilkan dalam keadaan sedang berbuah.

Sedangkan kekurangan dari jenis tanaman asam jawa untuk bahan bonsai adalah;
  1. Berdaun majemuk, sehingga untuk mencapai proporsi pohon bonsai harus pohon asam yang besar, sulit untuk membentuk bonsai ukuran kecil/mame
  2. Tidak bisa hidup subur di daerah yang bersuhu dingin, sehingga tidak kompetitif untuk dijadikan komoditas ekspor ke negara-negara beriklim sub tropis

Bonsai pohon asam banyak dibudidayakan di daerah Klaten dan Sragen Jawa Tengah. Di tempat tersebut bonsai asam jawa dikembangkan dengan berbagai metode, salah satu metode pembesaran baatang adalah dengan cara pecah batang, yaitu memecah batang sambil membentuknya selama masa pertumbuhan. Batang dan akar dipecah sedemikian rupa, sambil diarahkan pada bentuk yang diinginkan.  Hasilnya adalah dalam tempo paling lama 5 tahun, kita sudah mendapatkan bahan bonsai dengan ukuran batang yang relatif besar.
Produk-produk budidaya asam jawa dari Klaten dan Sragen sudah banyak kita temui pada kolektor-kolektor bonsai di nusantara bahkan sebagian sudah di ekspor ke luar negeri utamanya adalah negara-negara dengan iklim tropis. Bonsai asam jawa termasuk jenis bonsai kelas menengah ke atas, sejajar dengan bonsai papan atas lainnya seperti cemara (juniperus), beringin (ficus benjamina),Lo Han Sung (podocarpus), santigi (phempis acidula) maupun cemara udang (casuarina equisetifolia). Harga bahan bonsai asam jawa kwalitas satu antara 1 s/d 5 juta sedangkan bonsai jadinya mencapai ratusan juta rupiah.
Ketr: salah satu hasil budidaya bonsai asam jawa (tamarindus indica) 

Semoga pohon-pohon asam jawa di Kulon Progo tersebut dapat menjadi inspirasi bonsaimania dalam berkarya.

Senin, 07 Agustus 2017

Selayang Pandang Pameran Bonsai Purworejo

Selayang Pandang Pameran Bonsai Purworejo
31 Juli – 8 Agustus 2017



Tahun 2017 nampaknya merupakan tahun kebangkitan seni bonsai di Kabupaten Purworejo, setelah lama vakum tahun ini Purworejo mampu menyelenggarakan pameran bonsai dengan peserta cukup banyak. Isyu tentang kisruh primodialisme  komunitas bonsai yang sempat ramai di media social akhir-akhir ini  tak menyurutkan peserta untuk berpartisipasi dalam pameran kali ini. Hal ini juga didukung oleh “permainan cantik” panitia pameran untuk mengakomodir seluruh komunitas bonsai di Nusantara. Keputusan salah satu komunitas bonsai  bahwa pameran hanya untuk anggota yang memiliki KTA (kartu tanda anggota) komunitas bonsai tertentu “tidak ditaati” oleh panitia pameran.
Terbukti jalan yang ditempuh oleh panitia benar dan jumlah peserta melebihi taget yang ditetapkan, Jauh-jauh hari panitia bergerilya ke komunitas bonsai untuk mensosialisasikan pameran dan juga mengajak untuk mensukseskan pameran. Inilah sebenarnya esensi main hobby bonsai, selama masih bergelut dengan seni ini berarti kita adalah sedulur, sedulur, sedulur, lur….!!!
Okay back to lapangan Pameran saja. Lebih dari 300 pohon ikut ambil bagian dalam pameran ini, mulai dari kelas prospek, regional sampai madya. Lokasi pameran ada di sekitar calon proyek masjid di Baledono.  Sebenarnya panitia cukup berani mengambil keputusan untuk menggunakan tempat ini, selain bukan tempat yang strategis tempat pameran juga kurang memberikan view yang menarik, bekas galian proyek dan tiang pancang beton yang belum sempurna menjadi back ground dari pohon-pohon pameran. Pohon-pohon pameran ditata mengitari calon proyek masjid, sehingga untuk menikmatinya mau-tidak mau kita harus mengitari tempat tersebut.



Peserta pameran cukup merata beberapa kota besar andil dalam pameran ini seperti Jakarta, Semarang, Bandung juga kota kota di sekitar Purworejo seperti Jogja, Klaten, Wonosobo bahkan sampai ke Jawa Timur. Secara umum, kualitas pohon peserta masih dibawah Pameran Bandung 2016 maupun Tangeran akhir tahun kemarin. Hal tersebut dapat dimaklumi karena tidak semua kolektor besar nasional turun dalam pameran ini.
Penataan dan display pameran juga kurang baik, pohon kelas prospek, regional dan madya tidak ada batas yang jelas sehingga mengkaburkan kualitas pohon yang sudah bagus karena berdampingan dengan pohon kelas di bawahnya. Hal ini karena sejak proses pendaftaran, penerimaan sampai dengan display dilakukan sendiri oleh peserta tidak dilakukan oleh panitia, Sehingga peserta membawa sendiri dan mendisplay sampai di meja pameran.









Bursa Pameran kali ini juga kurang menggembirakan, selain karena keadaan ekonomi nasional yang sedang lesu, tempat pameran yang kurang strategis juga berimbas pada jumlah pengunjung pameran yang tidak optimal. Padahal peserta bursa cukup banyak dan rata-rata merupakan pemain lama dalam dunia bonsai sehingga kualitas pohon yang ditawarkan juga cukup baik.





Pada  pameran kali ini, tak ketinggalan SJF (Sleman Juniper Family) mengirimkan 9 pohon terbaiknya. Jenis dan bentuk pohon beragam termasuk usia kematangnnya, berikut bonsai partisipasi SJF dalam Pameran Purworejo 2017








Walaupun ada beberapa kekurangan, secara umum pameran bonsai Purworejo 2017 cukup sukses dengan jumlah peserta cukup banyak. Selamat untuk panitia pameran Purworejo, Sukses dan Maju Terus Bonsai Purworejo.

Berikut ini adalah beberapa bonsai peserta pameran yang cukup mencuri perhatian, semoga dapat menjadi inspirasi kita bersama…. 
































Entri yang Diunggulkan

SENTRA BONSAI YOGYAKARTA - KIREINA BONSAI

Mencari sentra bonsai di Yogyakarta, Anda dapat mengunjungi KIREINA BONSAI yang beralamat di Jl. Wates KM. 7, Pasekan Kidul RT: 01/01, Bale...