Kamis, 19 Desember 2013

3 HARI UNTUK SELAMANYA

TIGA  HARI UNTUK SELAMANYA
JOGJA - BANDUNG - JAKARTA

Perjalanan ini tidak akan pernah terlupakan, 3 hari 2 malam dalam perjalanan seni yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya. Pameran Bonsai Bandung, Workshop Bonsai Robert Steven, Kethoprak Mataram TMII dan Saung Bonsai Ade Maghrib Bandung menjadi rangkaian cerita.

Jum’at, 13/12/2012, Persiapan  Perjalanan
8 pohon yang disiapkan Sleman Juniper Family (SJF) tidak semuanya terbawa. Keterbatasan alat transportasi menjadi kendala utama dalam membawa Bonsai-Bonsai yang akan diikutkan dalam Pameran Bonsai  di Bandung. Akhirnya hanya 5 Bonsai terbaik milik Sleman Juniper Family (SJF) menyesuaikan tempat yang tersedia dalam mobil pengangkutnya.



Sabtu,  14/12/2012, Perjalanan Sesungguhnya 
Bandung, Pukul 04.00 WIB
“Luar Biasa” komentar paling pantas untuk pemandangan saat itu. Di lokasi pamerasn Bonsai Bandung, sudah tertata rapi deretan Bonsai peserta pameran. Perkiraan kami meleset, konsep pameran RT-an yang selama ini kami banyangkan apa adanya, semrawut, tidak tertata ternyata tidak terjadi di Bandung. Pameran dikemas sedemikian rupa sehingga tampilan secara keseluruhan kelihatan sangat mewah.
Sambutan Panitia begitu hangat, kami merasa menjadi tamu istimewa atas sambutannya. Panitia sangat sigap melayani kami, tidak lebih dari 10 menit sejak pendaftaran, 5 Bonsai kami sudah mendapatkan kuitansi pembayaran, souvenir dan Bonsai kami sudah tertata rapi bersama Bonsai-Bonsai peserta lainnya. Proses pendaftarannya sudah sistematis modern, didukung oleh perangkat komputer  dan seorang ahli dalam bidangnya. Identitas Bonsai mulai dari jenis pohon, ukuran, kelas, pemilik Bonsai langsung masuk dalam database Komputer. Sepertinya baru kali ini kami mendapatkan pelayanan istimewa dalam sebuah event pameran Bonsai.
Takjub selanjutnya ketika kami, melihat-lihat Bonsai peserta pameran, walaupun tidak melalui proses seleksi yang ketat, secara umum dapat dikatakan kualitas Bonsai peserta diatas rata-rata. Keragaman jenis pohon, gaya, ukuran serta tingkat kematangan pohon dapat ditemukan dalam pameran ini. Saya yakin peserta sudah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk hajatan Pameran Bandung. Display Bonsai juga tidak asal-asalan, deretan meja panjang tertata rapi dengan hiasan perlak meja yang mewah, walau tanpa background kain seperti pameran-pameran Bonsai lainnya, tapi bangunan Apartemen The Edge secara tidak sengaja menjadi background yang sangat menawan.  




Berikut foto-foto Bonsai peserta Pameran sebelum proses penjurian:








Foto-foto Bonsai Pameran Bandung setelah Penjurian









Juniper di Pameran Bandung
















Pluit,  pukul 14.00 WIB
Saya tidak pernah membayangkan akan dapat bertemu dengan Robert Steven saat itu, perjalanan saya ke Pluit sebenarnya hanya ingin membeli pot dan peralatan Bonsai. Berutung sekali hari itu saya bertemu Robert Steven pas demo lagi, sungguh kesempatan yang sangat langka.
Acaranya informal, santai dan sangat bersahabat khas obrolan pinggir jalan. Tetapi justru hal tersebut membuat kami menjadi lebih dekat, intim dan terbangun komunikasi dua arah yang sangat intensive. Kurang lebih 10 orang berkumpul duduk mengelilingi meja dimana Robert Steven melakukan demo menaklukkan bahan Bonsai Black Pine. Walau acaranya santai, Robert Steven melakukan demo dengan sangat profesional. Semua peserta terlibat dalam proses kreatif tersebut, Robert Steven memberikan semua ilmu Bonsainya kepada peserta dan tanpa canggung kami bisa saling memberi masukan sambil sesekali melempar joke-joke lucu khas Robert Steven.
Bimsalabim, 30 menit berlalu sebuah karya Bonsai Black Pine tercipta. Bahan Bonsai yang awalnya terkesan semrawut berubah drastis menjadi sebuah karya yang sangat elegan di tangan Robert Steven. Kuncinya satu, sebagus apapun konsep kita tanpa keberanian mengeksekusi tidak akan pernah menghasilkan apa-apa, begitu kata Robert.

Black Pine sebelum mendapatkan respon 




Saat Robert Steven Beraksi





Hasil Akhir 





TMII, Pukul 20.00 WIB
Memenuhi undangan untuk menyaksikan Pagelaran Kethoprak Mataram di TMII sebenarnya tidak terlalu menarik perhatian saya, selain karena Kethoprak,  faktor kelelahan fisik setelah sehari semalam melakukan perjalanan panjang menjadi alasannya kenapa saya tidak begitu antusias memenuhi undangan tersebut.
Pada akhirnya karena tugas, saya menghadiri acara Pagelaran Kethoprak Mataram di TMII. Suminten Edan adalah judul dari Kethoprak malam itu, merupakan judul yang sudah sering sekali dimainkan. Penonton sangat banyak, semua antusias menyaksikan acara tersebut. Saya jadi sangat heran, di kota metropolitan sebesar Jakarta, dimana tempat hiburan sudah maju dan ada dimana-mana ternyata Pentas Kesenian Tradisional Kethoprak masih menjadi pilihan masyarakat untuk menyaksikannya.
Semalam suntuk akhirnya saya ikut menikmati pagelaran tersebut. Tak sadar jam sudah menunjukan pukul 02.00 WIB saatnya merebahkan raga untuk mempersiapkan kondisi esok hari

Pagelaran Kethoprak Mataram "Suminten Edan"



Minggu, 15/12/2013

Saung Bonsai Ade Maghrib Bandung, 07.00 WIB
Kembali ke Bandung, Puas menyaksikan Pameran Bandung, kami mengunjungi Saung Bonsai Ade Maghrib. Pak Ade, biasa dipanggil, beliau merupakan salah satu pembudidaya Bonsai paling berhasil di Bandung. Usaha yang sudah digeluti lebih dari 30 tahun tersebut telah menghantarkan Pak Ade dan keluarganya meraih kesuksesan.

Jumlah Bonsai yang dibudidayakan mencapai ribuan, lebih dari 5 hektar lahan yang digunakan untuk budidaya. Di sebuah kaki gunung yang sangat asri Pak Ade mendirikan saungnya, di sisi bagian lainnya Pak Ade menanam berbagai jenis pohon. Hokianti, Cemara, Beringin, Podocarpus/Lohangsung, Sancang dan berbagai jenis bahan Bonsai ada di Saung Pak Ade. Ulet, tekun dan jujur adalah merupakan kunci kesuksesan usaha yang beliau jalani, begitu kata Pak Ade.

Suasana saung Pak Ade




Oleh-oleh dari Pak Ade
Black Olive



Juniperus programan




Sungguh 3 hari itu adalah hari yang luar biasa, tak mungkin terulang, akan teringat selama-lamanya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar